Wednesday, 12 October 2011

Kemarin kau hanya mendengar.. hanya melihat dari khayalan.. dari aliran mulut kemulut, dan 
kini aku merasakan, pisau penyesalan telah 
melihatkan ketajamannya menoreh hati yang baru terbuka. Dalam sekali gerakan lidah.. 
hamparan luka menganga membentuk pusaran 
waktu yang tak terlinasi menjadikan hari – hariku kelam dalam pekat penyesalan.. Kata yang 
pernah ku ucap telah menciptakan luka baru 
yang tak akan mungkin terobati. Seharusnya tak ku ucapkan kata itu hanya karena kau 
berikan setetes kekecewaan.. Waktu tak mampu 
berbicara banyak.. tak dapat memulihkan luka itu.. Semula aku berharap perhatian dan rasa 
sayang yang ku tiupkan dapat membuatmu 
nyaman..Aku baru insaf.. daun hatimu gugur menjadi kebencian yang tak terhapuskan, hadir rasa ragu 
dan bimbang dalam hatiku putus asa atau 
timbul pengharapan dalam hatiku yang belum tentu tujuannya ini aku tidak tahu. Aku 
hanyalah mahluk sebagaimana orang biasa tak luput 
dari khilaf dan kesalahan.. Teriak doa’ku tak sanggup mengubah.. Ribuaan usahan telah aku 
lakukan untuk menumbuhkan rasa yang dulu 
pernah hilang muncul dan mendekapku kembali.. namun semua itu ibarat setetes air jatuh di 
tanah gersang.. tak satu pun yang dapat 
membuat hatimu luluh dan mengucapkan “Aku menegerti dan lupakan semua itu”. Kau ibarat 
raja tirani yang hanya dapat didekati orang 
besar disekitarmu.. Atau hatimu telah bersandar pada pelabuhan yang lain?? Atau telah ada 
yang mengisi ruang kasihmu?? Mengunci 
semua rasa sayangmu?? Kalu semua itu benar.. siapakah seseorang yang telah menyunting 
bunga melur di hatimu?? Sungguh sangat 
beruntung dia..Ketauhilah hanya engkau yang sanggup menjadikan aku seorang pemberani tetapi engkau pula 
sanggup menjadikan aku sengsara selamanya.
 Aku berfikir masih banyak cinta di luar sana.. tapi itu semua tak akan dapat memuaskan batin 
malah hanya kan menambah beban dan 
penderitaan.. Pilihan dengan mudah ku temukan, tapi maslah hati tak dapat diukur dari 
cantik, manis dan setianya seseorang.. Mungkin tidak
 ada keinginan tuhan atas pertemuan kita ini kalau tak ada kesamaan batin.. Mau agaknya 
saya menyesali nasib atas apa yang telah terjadi. 
Sudahlah.. jalan hidupku sudah ditentukan dan aku pun harus menjalaninya, walau pun 
dengan penyesalan dan rasa sakit yang terus 
mendampingiku.. sampai saat ini aku masih berharap beri aku maaf walau tanpa kata.

No comments:

Post a Comment