Kemarin kau hanya mendengar.. hanya melihat dari khayalan.. dari aliran mulut kemulut, dan
kini aku merasakan, pisau penyesalan telah
melihatkan ketajamannya menoreh hati yang baru terbuka. Dalam sekali gerakan lidah..
hamparan luka menganga membentuk pusaran
waktu yang tak terlinasi menjadikan hari – hariku kelam dalam pekat penyesalan.. Kata yang
pernah ku ucap telah menciptakan luka baru
yang tak akan mungkin terobati. Seharusnya tak ku ucapkan kata itu hanya karena kau
berikan setetes kekecewaan.. Waktu tak mampu
berbicara banyak.. tak dapat memulihkan luka itu.. Semula aku berharap perhatian dan rasa
sayang yang ku tiupkan dapat membuatmu
nyaman..Aku baru insaf.. daun hatimu gugur menjadi kebencian yang tak terhapuskan, hadir rasa ragu
dan bimbang dalam hatiku putus asa atau
timbul pengharapan dalam hatiku yang belum tentu tujuannya ini aku tidak tahu. Aku
hanyalah mahluk sebagaimana orang biasa tak luput
dari khilaf dan kesalahan.. Teriak doa’ku tak sanggup mengubah.. Ribuaan usahan telah aku
lakukan untuk menumbuhkan rasa yang dulu
pernah hilang muncul dan mendekapku kembali.. namun semua itu ibarat setetes air jatuh di
tanah gersang.. tak satu pun yang dapat
membuat hatimu luluh dan mengucapkan “Aku menegerti dan lupakan semua itu”. Kau ibarat
raja tirani yang hanya dapat didekati orang
besar disekitarmu.. Atau hatimu telah bersandar pada pelabuhan yang lain?? Atau telah ada
yang mengisi ruang kasihmu?? Mengunci
semua rasa sayangmu?? Kalu semua itu benar.. siapakah seseorang yang telah menyunting
bunga melur di hatimu?? Sungguh sangat
beruntung dia..Ketauhilah hanya engkau yang sanggup menjadikan aku seorang pemberani tetapi engkau pula
sanggup menjadikan aku sengsara selamanya.
Aku berfikir masih banyak cinta di luar sana.. tapi itu semua tak akan dapat memuaskan batin
malah hanya kan menambah beban dan
penderitaan.. Pilihan dengan mudah ku temukan, tapi maslah hati tak dapat diukur dari
cantik, manis dan setianya seseorang.. Mungkin tidak
ada keinginan tuhan atas pertemuan kita ini kalau tak ada kesamaan batin.. Mau agaknya
saya menyesali nasib atas apa yang telah terjadi.
Sudahlah.. jalan hidupku sudah ditentukan dan aku pun harus menjalaninya, walau pun
dengan penyesalan dan rasa sakit yang terus
mendampingiku.. sampai saat ini aku masih berharap beri aku maaf walau tanpa kata.
No comments:
Post a Comment